Testimoni

Lavinia Elysia
Lulusan tahun 2015
"(Designer and Researcher at Open House inc. Japan | Study Group of Resource Circularity Society 株式会社オープンハウス | 資源循環社会研究会Circular) Hidup di dunia ini, bukan lagi sebagai mahasiswa, tetapi sebagai manusia; kita tidak akan bisa lepas dari berkenalan dengan orang lain. Ketika kami, desainer memperkenalkan diri, orang-orang biasanya bertanya, "Apa yang Anda desain?". Mungkin, hampir tidak ada yang bertanya, "Mengapa Anda mendesain?". Saya menyukai seni, alam, dan koneksi akan segala sesuatu di antaranya. Sering kali saya tidak mengerti mengapa desainer berlomba-lomba untuk membuat hal-hal baru ketika sudah terlalu banyak hal di dunia ini yang sebetulnya mungkin tidak perlu ada. Lihatlah sekeliling. Yang tercipta oleh alam selalu kembali ke perputaran alam, tapi yang desainer ciptakan sebagian besar berakhir menjadi sampah. Belajar disini merupakan berkat tersembunyi. Di balik studio nirmana, saya belajar bahwa keindahan tidak hanya lahir dari olah pikir, tetapi juga dari olah rasa. Di balik garis-garis gambar tangan dan gambar komputer, saya belajar bahwa masa depan yang berkelanjutan tidak mungkin ada tanpa pengertian akan yang lalu. Di balik masa kerja profesi dan periode Tugas Akhir, saya belajar bahwa kebahagiaan adalah melakukan apa yang kita sukai. Saya juga belajar ilmu berharga di luar kelas, seperti Temu Karya Mahasiswa Desain Interior Indonesia (TKMDII), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM UK Petra), UKM English Debate (EDS UKP), program kemahasiswaan, konferensi dan pengabdian masyarakat. Saya percaya bahwa sejak dahulu, kini dan esok, desain merupakan media kuat yang dengannya manusia dapat merencana dan membentuk ruang, lingkungan, bahkan masyarakat dan dirinya sendiri. Tanggung jawab lingkungan dan sosial belum pernah menjadi sepenting ini bagi para desainer. Kiranya setiap jiwa yang tersentuh oleh universitas ini akan menjadi pembelajar abadi. Dari hati saya yang terdalam, terima kasih.
Wandy Roy
Lulusan tahun 2012
"(Interior Designer & Founder of WR Interior Design, Jayapura) Sejak kecil, saya sudah sangat tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan seni dan desain. Beruntungnya, Universitas Kristen Petra Surabaya memiliki Fakultas Seni & Desain yang fasilitasnya sangat mendukung, khususnya di jurusan Desain Interior yang saya pilih. Di kampus ini, bakat saya semakin diasah menjadi seorang profesional. Awal perkuliahan di kampus Universitas Kristen Petra, saya merasa sedikit kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan maupun materi kuliah yang diberikan. Namun, dengan tekad yang kuat, saya bisa melalui semuanya dengan baik, meskipun saya berasal dari timur (Papua). Semua akan mudah dilewati ketika melakukannya dengan fokus pada tujuan yang diimpikan. Tentunya harus disertai dengan usaha yang keras dan selalu berdoa mengandalkan Tuhan. Tidak hanya di bidang akademik saja, Universitas Kristen Petra juga membantu proses pengembangan diri saya melalui banyak hal. Softskill dan EQ saya semakin terasah dengan berbagai kegiatan positif di kampus. Saat itu, saya dengan aktif bergabung dalam berbagai kegiatan organisasi dan kepanitiaan yang ada di kampus, Hal yang paling berkesan adalah ketika saya dipercayakan sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior (HIMAINTRA) pada periode 2010-2011. Saya juga mendapatkan banyak pengalaman dengan mengikuti kegiatan studi ekskursi jurusan mulai dari dalam kota Surabaya hingga ke luar negeri. Pada tahun 2012, saya juga berpartisipasi dalam sebuah kegiatan berlevel nasional yaitu TKMDII (Temu Karya Mahasiswa Desain Interior Indonesia) yang diselenggarakan di Kota Bandung, Jawa Barat. Bukan hanya itu, pengembangan spiritual iman Kristiani saya juga semakin bertumbuh di kampus ini. Hal itulah yang membawa dampak besar bagi kehidupan saya setelah lulus dan menjalani pekerjaan di bidang Interior khususnya di Papua, ujung timur Indonesia. Saya memilih tetap bekerja dan berproses di bidang interior karena saya merasa pekerjaan ini merupakan passion dan mimpi saya untuk mengembangkan bisnis ini secara profesional, khususnya di Papua, tempat kelahiran saya. Menurut saya, seorang interior designer yang profesional tidak hanya dituntut untuk mahir dalam membuat suatu karya desain yang indah dan nyaman, tetapi juga harus dapat mencari solusi yang terbaik atas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh klien. Serta bagaimana karya desain yang dihasilkan dapat berguna dan menjadi berkat bagi kehidupan banyak orang. Terima kasih.
Stephanie Melinda Frans
Lulusan tahun 2015
"(Interior Designer & Founder | Agniprava Interior and Build) Kuliah di Desain Interior Petra adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya pribadi. Saya memulai masuk di Interior Petra dengan pengetahuan yang begitu minim tentang interior (alias belajar dari 0). Meski diawal terasa sulit, tapi saya bersyukur di Interior Petra saya mendapat pengajaran yang begitu baik dari dosen-dosen yang ada, sehingga memotivasi serta mendorong saya untuk pelan-pelan memahami setiap mata kuliah yang ada. 4 tahun kuliah di Petra saya mengembangkan hardskill (pembelajaran) dan softskill (keaktifan di kemahasiswaan) sehingga saya mendapat begitu banyak dampak positif yaitu membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih kritis, sudut pandang yang luas serta terarah, dan memiliki banyak kesempatan bertemu serta mengenal berbagai macam individu dengan karakter yang unik. Dalam dunia kerja, hal-hal tersebutlah yang paling dibutuhkan selain teori-teori yang telah dipelajari, softskill tidak kalah penting, apalagi bagi saya yang merintis dari awal Agniprava Interior & Build. Sangatlah tidak mudah merintis sebuah usaha, ilmu saja tidak cukup. Sehingga, saya begitu bersyukur pernah diproses, ditempa di Universitas Kristen Petra, dampak positif yang luar biasa.
Kezia Karin
Lulusan tahun 2005
"(Founder and Principal Designer of Kezia Karin Studio) Banyak orang beranggapan, kehidupan seorang desainer interior erat kaitannya dengan kemewahan, keelokan, dan keanggunan. Tetapi, tahukah Petranesian bahwa dalam meraih segala hal yang baik, dibutuhkan fondasi yang sangat kuat serta perjuangan yang keras? Hal inilah yang ditekuni oleh Kezia Karin dalam menjalani kariernya. Alumnus Prodi Desain Interior UK Petra angkatan 2001 ini merupakan pendiri KEZIAKARIN Studio, salah satu interior design house di Indonesia. Hingga saat ini, KEZIAKARIN Studio telah mengembangkan sayapnya dari Asia hingga Amerika. Beberapa proyek yang dikerjakan KEZIAKARIN Studio terdiri dari berbagai tipe seperti ekshibisi, perkantoran, hospitality, artwork and installation design, serta residential (hunian). Beberapa contoh proyek ekshibisi seperti Cattelan 2019 di Jakarta; perkantoran seperti kantor Corpus di Surabaya dan Equity di Jakarta; hospitality seperti Hotel Vasa di Surabaya, Holland Park di Batu, Padma Hotel di Bandung; artwork and installation design seperti pada Tom Dixon-Lucent Reverie di Jakarta; dan residental seperti di Graha Family Surabaya, Anandamaya di Jakarta, hingga Louis Vuitton-Exotic Leather: The Secret Sanctuary di Jakarta. Vasa Hotel Surabaya adalah salah satu karya KEZIAKARIN Studio (sumber: dok. pribadi) “KEZIAKARIN Studio sudah (berdiri selama) 12 tahun,” kata wanita kelahiran Yogyakarta tahun 1983 ini. Sebelum mendirikan studionya, Kezia Karin mengawali dua tahun kariernya sebagai freelance interior designer. Kemudian, wanita yang hobi bermain piano ini memutuskan untuk mendirikan studio dengan tim beranggotakan awalnya dari satu orang hingga saat ini sekitar 20 orang. Salah satu karya KEZIAKARIN Studio yang terletak di luar Surabaya, Golden Tulip Holland Resort Batu (sumber: dok. pribadi) Sebagai seorang desainer interior, salah satu mata kuliah yang bermanfaat bagi Kezia Karin adalah Desain Dasar. Dalam mata kuliah Desain Dasar, seluruh mahasiswa desain interior melatih kepekaannya dalam membuat komposisi dengan berbagai elemen dan prinsip desain. Elemen desain yang digunakan berupa titik, garis, bidang, bentuk, serta massa. Prinsip desain meliputi keseimbangan (simetris, asimetris, radial), irama, repetisi, dan sebagainya. Bagi Kezia Karin, hal bersifat dasar inilah yang sangat penting. “Percuma bisa desain yang kekinian kalau basic dan fundamental tidak kuat. Desainnya mungkin keren, tetapi tidak berkonsep dan tidak menciptakan solusi bagi masalah yang ada,” katanya. Ibarat fondasi pada gedung, semakin kuat dasarnya, maka semakin tinggi gedung tersebut dapat berdiri. Dalam membangun sebuah fondasi juga diperlukan kegigihan serta ketekunan. “Hal-hal lain yang diperlukan di pekerjaan, saya pelajari (secara) mandiri,” ujarnya. Setelah lulus kuliah, wanita penyuka pilates ini mengaku, ada beberapa hal mengenai desain interior yang masih asing baginya. Dia pun memutuskan untuk mempelajarinya sendiri. “Kalau berharap dua hingga tiga tahun langsung bisa sukses, jadi bos, dan kaya, lebih baik jangan jadi desainer interior,” katanya disambung tawa. Dia melanjutkan, “Nggak akan bisa. Bekerja (sebagai) desainer pasti banyak kerja lembur atau overtime. Terkadang bisa sampai pagi.” Louis Vuitton – Exotic Leather: The Secret Sanctuary (sumber: dok. pribadi) Bagaikan ungkapan “tuntutlah ilmu hingga ke negeri China”, Kezia Karin tidak mudah merasa puas. Wanita penggemar olahraga renang ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi saat mendalami profesinya sebagai desainer interior. Rasa ingin tahu tersebut tidak menghambatnya untuk melangkah dalam meraih tujuan hidupnya. Bagi wanita penyuka travelling ini, semua hal bisa dilakukan jika berusaha. “Be persistent in working towards your goal. Always put extra effort,” ujarnya mengajak Petranesian untuk gigih meraih mimpi dan selalu memberikan usaha yang lebih. Usaha inilah yang menjadi penentu sejauh mana seorang pelari maraton dapat bertahan. Kezia Karin mengatakan bahwa hidup dipenuhi dengan masalah dan rintangan. Itulah mengapa seseorang harus memiliki karakter yang baik. Beruntung, hal yang dapat dibanggakan dari UK Petra adalah basis moral Kristianinya. “At least, peraturan di UK Petra masih berlandaskan nilai-nilai Kekristenan,” katanya. Bukan hanya usaha mencapai sebuah mimpi yang dianggap penting, namun juga karakter dalam mencapai mimpi. Tenaga pendidik, seperti dosen, juga memberikan kontribusi yang besar dalam membentuk karakter mahasiswa. Bagi Kezia Karin, Alm. Ir. Kartono J. Lukito adalah sosok dosen yang sangat menginspirasinya saat kuliah. Beliau merupakan pembimbing tugas akhirnya yang mampu memberi penjabaran dengan sangat jelas dan pragmatis. Sebagai figur wanita karier yang sukses, Kezia Karin mengatakan, ketika ingin berhasil dalam pekerjaan, harus ada usaha mandiri dan kemampuan mengambil keputusan hidup sejak muda. Jika segala sesuatu masih bertanya dan bergantung pada orang tua, serta orangtua terlalu ikut campur dalam perjalanan karier, maka karier akan sulit berkembang. “Saya beruntung orang tua selalu mendukung setiap keputusan (yang saya ambil, red.) sejak saya masih sangat muda,” tambahnya. Pekerjaan seorang desainer juga membutuhkan mental yang kuat karena banyaknya permasalahan yang akan dihadapi. “Kalau terkena masalah di kantor saja langsung baper (bawa perasaan), takut, putus asa, mau resign, ya lebih baik jangan bekerja,” ujarnya. Baginya, tidak ada lingkungan pekerjaan yang diciptakan sesuai dengan kepribadian dan keinginan masing-masing orang. “Kitalah yang harus belajar menjadi adaptif untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat,” tutupnya.**(Keren Remaliah Karsa)
Laurent Saviour
Lulusan tahun 2019
"(Interior and Product Photographer | Studio Lasaet) Berproses di Desain Interior UK Petra bukan hanya mengembangkan sisi akademis saya saja, melainkan pengembangan berbagai karakter sesuai nilai ajaran Kristiani. Metode pembelajaran yang mengajak saya untuk aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial seperti service learning, mengajarkan saya bahwa desain dapat berdampak secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ragam metode pembelajaran juga mengajarkan saya untuk dapat selalu aktif, berinisiatif, dan berkompeten. Pengembangan softskill ini ternyata berguna bagi kehidupan saya pasca studi sarjana strata satu. Saya berinisiatif untuk mengembangkan start up mandiri sesuai bakat dan minat saya. Dan yang terpenting, saya berharap untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan menghasilkan karya yang berdampak bagi kehidupan.
Evania Tjandra
Lulusan tahun 2019
"(Interior Designer | Ethankho) Saat Kuliah di Jurusan Desain Interior, saya belajar banyak hal mengenai design dan konsep2 untuk mendesain desain yang baik. Tidak hanya teori-teori saja, tetapi saya juga belajar problem solving dan bagaimana merencanakan sebuah tempat yang berdampak bagi pengguna didalamnya. Secara karakter, saya belajar cara menjadi leader yang baik, bekerja sama dalam tim, dan cara berkomunikasi dengan berbagai jenis orang. Dalam karir saya, saya dapat menggunakan berbagai ilmu yang telah diberikan di Interior, seperti Kemampuan menggunakan aplikasi Komputer 3D, kemudian merumuskan moodboard, dan lain sebagainya.
William Vijadhammo
Lulusan tahun 2019
"(Interior and Product Designer | Vijja Upcycling) Hai petranesian, salam desain dari alumnus #2 interior petra angkatan 2015 yang kalian kenal dengan William Vj. Sebagai seseorang yang bercita-cita ingin menjadi arsitek dan ternyata realita berkata lain, saya pribadi sungguh belajar banyak hal selama 4 tahun diproses dalam prodi ini. Mungkin terlintas dalam pemikiran anda bahwa bisa lulus dengan #2 sejurusan dan #9 se-universitas pasti jalan yang dilalui sangatlah mulus. Eits, tetapi tidak semudah itu ferguso, saya pun pernah mengalami problem di awal-awal semester. Melalui segala jenis problem tersebut, saya belajar satu hal penting yaitu untuk tetap semangat menjalani segala sesuatu dan deliver the best of you meskipun dalam perjalanan menemui kesulitan atau bahkan berakhir dengan sebuah kegagalan. Bahasa kerennya adalah "at least you've tried your best and then let God to the rest". Disamping itu tentunya pelajaran yang didapatkan dari mata kuliah core cukup menunjang kebutuhan di dunia pekerjaan. Dari yang awalnya hanya tahu untuk menggambar secara indah, menjadi lebih tahu arti sebuah konsep, bagaimana cara mentransformasikan konsep ke dalam sebuah komposisi ruang, yang akhirnya tidak hanya menghasilkan sebuah gambar yang indah saja, tetapi juga menjawab kebutuhan dan menyelesaikan permasalahan ruang yang ada. Ada juga mata kuliah pendukung yang menjadi pelengkap pengetahuan seperti menjadi lebih kenal dengan karakteristik berbagai jenis material, tahu bagaimana teknik-teknik konstruksi dalam lingkup interior, dan cara untuk menyiapkan serta mengatur jalannya sebuah project interior.Keseluruhan pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan ini saya rasa cukup mendukung saya dalam menjalani dunia karir. Tentunya satu hal yang perlu diketahui adalah perkuliahan desain interior ini menurut saya hanya sebatas pemanasan saja. Menjalani dunia karir merupakan sebuah panggung yang baru. Jadi jangan lupa untuk stay humble meskipun anda mungkin akan menjadi #2 yang selanjutnya dan belajarlah untuk tidak pernah berhenti belajar.

Alumni

Laurent Saviour
Interior & Product Photographer
Studiolasaet
Kezia Karin
Founder and Design Consultant
Kezia Karin Studio
Ifan Roring
Principle Designer
Q-bic Space
Henny Ramli
Founder and Creative Designer
Assa Interior
Ronald Humadarni
Owner/Creative Director/Designer
Rh2+ interior designer
Antonius Widjaja
Commercial photographer (interior, architecture, fine art, printing)
Antoni Photography
Magat Kristianto
Founder, architect and interior designer
Khatulistiwa Design Studio
Lavinia Elysia
Designer and Researcher
Open House Inc. Japan | Study Group of Resource Circularity Society 株式会社オープンハウス | 資源循環社会研究会Circular
Stephanie Melinda Frans
Founder and Designer
Agniprava Interior & Build